Bumi sebagai laboratorium fisika.

Kompas Nama dan Peristiwa

Rabu, 7 Agustus 2002

Meneliti Banjir dengan Fisika

Kompas/SALOMO SIMANUNGKALIT
The Houw Liong
PULANG dari Amerika begitu menyelesaikan PhD tahun 1968, The Houw
Liong sempat kecewa. Ia tak menemukan alat canggih dan mahal di
laboratorium Fisika ITB, tempat ia mengajar, sebagaimana yang empat
tahun dipakainya di University of Kentucky mempelajari persoalan
benda banyak dalam fisika zat padat. Namun, sebagai fisikawan tulen,
ia tak tenggelam dalam kekecewaan itu.

Segera diliriknya Bumi tempat berpijak dan lingkungannya sebagai
laboratorium raksasa untuk mengamati fenomena alam dan memeriksa
hukum fisika yang mengatur jagat raya. Pendekatan ini sudah lama
ditinggalkan sebagian besar fisikawan negara maju yang terjebak dalam
perangkap laboratorium canggih. Itu sebabnya, makin jarang terdengar
gagasan fisika dari sana yang berangkat dari observasi terhadap
lingkungan alam dan kehidupan manusia sehari-hari.

Berangkat dari situ, The dan kawan-kawan merancang soal dalam
olimpiade fisika baru-baru ini dengan membawa peserta menyadari bahwa
fisika menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Ketiga soal itu
menyangkut pemahaman rekonstruksi lapisan bawah tanah dengan sinyal
radar, proses kebiasaan mangsa dan pemangsa biota laut yang alami
terjadi sebagai bagian dari rantai makanan penyeimbang kehidupan
jasad-jasad di laut, dan pengetahuan mekanika untuk membahas berbagai
kasus gerakan gerobak bermuatan berat di jalan miring.

“Saya dihadapkan pada keharusan memilih waktu itu,” kata koordinator
pembuat soal Olimpiade Fisika Internasional 2002 itu mengenang tahun
pertamanya kembali dari Kentucky. “Ini yang terbawa ketika (memimpin)
pembuatan soal dalam olimpiade ini.”

Soal fisika dengan pendekatan back to basic itu jadi buah mulut
fisikawan 69 negara yang menjadi ketua delegasi-sebagian dari negara
maju-di arena olimpiade. Sebabnya, format soal pada olimpiade
sebelumnya cenderung mengetengahkan kejadian fisis dalam kondisi
ideal. Sampai-sampai ketua kontingen sebuah negara Eropa tertarik
memaparkan siswanya kelak belajar fisika di Indonesia. Yang betul-
betul siap menghadapi soal seperti ini justru negara-negara Timur
jauh semacam Indonesia, RRC, Vietnam, dan Korea Selatan.

“Saya pikir salah satu pola baru untuk melampaui ketertinggalan
negara berkembang dalam fisika adalah mengembangkan observasi
terhadap kejadian-kejadian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari
manusia. Dengan mengembangkan prinsip deteksi ikan, misalnya,
Indonesia bisa andal dalam biofisika,” kata The. “Kalau ikut track
negara-negara maju, kita enggak bakal mampu mengejarnya.”

Di bidang inteligensi buatan, misalnya, ia mengajak mahasiswa ITB
tingkat doktor dari berbagai jurusan mengamati kelakuan katak
menangkap serangga yang berseliweran di sekitarnya untuk merancang
suatu metode kalkulasi berdasarkan penginderaan tertentu. Setelah
mengamati dan mengidentifikasi serangga yang bergerak mendekatinya,
katak pada waktu yang tepat menjulurkan lidah dan berhasil menangkap
mangsanya.

“Kalau tawon yang lewat, katak enggak peduli. Identifikasi dan
kalkulasinya luar biasa,” kata The. “Ini yang saya sebut teknologi
katak, ha-ha-ha.”

***
NAMA The Houw Liong di ITB sudah 20 tahun ini dikenal lintas jurusan.
Basisnya di Departemen Fisika, tapi ia siap melayani mahasiswa
Geofisika dan Meteorologi yang mau mempelajari cuaca dengan
pendekatan teori chaos dan kompleksitas. Begitu pula mahasiswa Teknik
Fisika yang ingin mendalami fuzzy logic untuk merancang sistem
kontrol atau mahasiswa Informatika yang mau mengenal cellular
automata ciptaan fisikawan Stephen Wolfram yang sedang hangat
dibicarakan oleh komunitas internasional dari berbagai bidang minat.

Kekuatannya dalam metodologi, fisika, dan matematika, membuat The
mudah memasuki bidang-bidang sains di barisan frontier. Chaos,
kompleksitas, dan logika fuzzy, ia pelajari dan ia ajarkan ketika
bidang itu masih belia 20 tahun lalu, bahkan ia sudah memberikan
kuliah tentang cellular automata dalam fisika komputasi sejak belasan
tahun lalu, hanya beberapa tahun setelah Stephen Wolfram
mengumumkannya dalam jurnal.

“Sains sejak awal abad XX cenderung masuk ke spesialisasi sampai-
sampai seorang fisikawan material bisa sangat awam menghadapi
kosmologi dan fisika partikel, atau dokter saraf bisa gamang melihat
perkembangan riset otak mutakhir. Tapi, dengan fisika komputasi,
timbul satu metodologi yang membongkar paradigma masuknya ilmu
pengetahuan sampai ke spesialisasi yang tajam,” katanya tentang A New
Kind of Science Stephen Wolfram yang mengklaim bahwa cellular
automata merupakan suatu alat general untuk melihat perilaku sistem
yang kompleks di semua lapangan ilmu dan kehidupan.

Ia mungkin satu dari segelintir ilmuwan di Indonesia yang tidak hanya
fasih membicarakan segi filosofis yang menjadi penanda dalam fisika
klasik, kuantum, relativitas, chaos, kompleksitas, logika fuzzy,
sampai cellular automata, tapi juga masuk ke segi-segi teknisnya
dengan matematika yang rumit itu, bahkan sampai pada tingkat paling
rinci. Malah mengembangkan bidang-bidang itu untuk memecahkan
persoalan nyata seperti perilaku harga saham di Bursa Efek Jakarta
(BEJ) sampai banjir yang melanda Jakarta awal tahun ini dengan teori
chaos.

Memadankan spin up dan down dalam mekanika statistik dengan buy dan
sell pada pasar saham, The melihat pola harga saham terhadap waktu di
Eropa sangat berbeda dengan yang terjadi di BEJ. “Bursa saham di
Eropa punya karakteristik sehingga dapat diprediksi, tapi di
Indonesia terlalu banyak parameter tersembunyinya sebab memang banyak
faktor yang irasional,” katanya.

The kini terlibat dalam proyek penelitian mengatasi kekeringan di
Indonesia dan sebuah proyek yang tak kalah pentingnya bagi penduduk
Jakarta: melihat deret banjir di Jakarta dari masa ke masa untuk
memprediksi curah hujan pada tahun 2003 sehingga ketahuan tempat-
tempat mana yang berpotensi menghadapi banjir. Apakah ramalan cuaca
itu nantinya dapat diandalkan?

“Betul, cuaca memang dipengaruhi gerak periodik dan gerak chaotic,
tapi tidak completely random,” katanya. “Masih bisa diprediksi, meski
hasilnya tidak satu pola.”

The Houw Liong adalah tipikal fisikawan dengan tradisi logiko-
empirisme yang amat kuat, tapi bisa sekaligus penganut
Kristen “tradisional” yang rajin beribadah, bahkan sekali-kali
berkhotbah di jemaatnya di Gereja Baptis, Bandung. Di kalangan
fisikawan dunia, kecenderungan seperti ini ditemukan pada dua
Nobelis: Abdus Salam (Pakistan) yang Islam dan Steven Weinberg (AS)
yang Yahudi. Tentang ini The punya cerita. Banyak membaca filsafat
dan buku tentang Hindu, Buddha, Kristen, Islam selagi mahasiswa di
Bandung, tapi kesulitan menolak ajakan ke gereja sejak bermukim di
Amerika.

Salah satu yang meyakinkannya bahwa ada soal di luar urusan logika
adalah teorema Goedel dalam matematika yang, dengan pembuktian
superketat, berhasil memperlihatkan sistem sekompleks aritmetika
ternyata mengandung kontradiksi. Konkretnya, teorema itu dapat
membuktikan bahwa satu sama dengan nol. “Jadi, saya tidak bisa
bersikeras tetap berada di otak kiri sebab teorema Goedel membuktikan
bahwa dalam logika pun ada kontradiksi,” katanya.

Di ruas jalan Kampus ITB di bilangan Ganesha maupun di jalan-jalan
seputar Bandung, laki-laki kelahiran Bandung, 17 Oktober 1940, ini
mudah dikenali dengan sedan Holden tua berwarna coklat usang itu.
Sudah 20 tahun ia mengendarai mobil yang badannya sudah terlihat
tidak lagi seimbang ketika melaju bahkan di bidang rata.

“Saya dan Einstein melihat ada yang tak bisa dijelaskan sebelum Big
Bang,” kata The. “Ada apa sebelum itu? Saya harus masuk ke teologi.”
(SALOMO SIMANUNGKALIT)

3 Comments

  1. Salam Prof. The
    Nama saya Aminuddin, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
    Sebagai sesama pendidik, saya merasa bangga melihat semangat Prof. The dalam berkarya di dunia akademik yang saya bisa tangkap dari sekilas membaca Blog ini. Sebuah contoh yang bisa menjadi teladan siapa saja, termasuk saya.
    Saya yakin, Prof. The yang hidup sederhana ini adalah salah satu pelita dalam keremangan dunia penelitian dan akademik kita di Indonesia. Semoga suatu saat saya bisa berkolaborasi atau paling tidak bertukar pendapat dengan Prof. The, karena saya tangkap Prof. The juga punya minat sepertinya dalam ilmu Biologi?

  2. Teorema Goedel menyatakan bahwa setiap sistem formal yang kompleks mengandung kontradiksi. Kontradiksi dapat dihilangkan dengan memperluas sistem formal itu, tetapi dalam sistem formal yang baru pun tetap mengandung kontradiksi, sehingga perlu diperluas lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s