Ekonofisika

Ekonofisika, Apa itu?

Oleh Kebamoto

Dalam rangka penyelenggaraan ”International Econophysics Conference 2002” (IEC 2002) di Bali pada tanggal 29-31 Agustus 2002, maka di Jakarta dilangsungkan ”The International Public Seminar of the Year” tentang Ekonofisika pada tanggal 27 Agustus 2002 yang dihadiri oleh kebanyakan pakar ekonomi dan keuangan dan (juga) pakar fisika. Pertanyaan logisnya adalah pertama: Apakah teori ekonomi yang diyakini selama ini sudah atau akan digantikan dengan suatu ”teori ekonomi baru” yang disebut Ekonofisika?; dan kalau betul demikian maka pertanyaan selanjutnya adalah: Mampukah ”teori ekonomi baru” Ekonofisika ini menjelaskan dan bahkan memberikan solusi pemecahan krisis Ekonomi di Indonesia yang tak kunjung surut?
Memang, pertanyaan-pertanyaan di atas sangat mengharapkan banyak dari apa yang bisa disumbangkan oleh fisika kepada ekonomi atau terlebih khusus lagi ekonomi keuangan.
Prof. Steve Keen, penulis buku Debunking Economics dari Australia mengklarifikasikan bahwa perkembangan ekonomi modern menyangkut sistem kajian yang komplek dan dinamik sehingga pendekatan ekuilibrium dalam ekonomi tidak tepat diterapkan pada kenyataan yang non-ekuilibrium. Sifat dinamik-komplek dalam sistem ekonomi ini lebih cocok didekati dengan sistem chaotic dan bahkan frustrated system. Jalan keluarnya, untuk menganalisa sistem-sistem yang seperti itu (kompleks-dinamik: chatotic dan frustrated system) perlu diterapkan analysis tools yang sangat dikenal dalam fisika. Karena itu, para fisikawan yang kreatif menerapkan alat kaji (tools) yang dipakai dalam sistem fisika ke dalam sistem ekonomi keuangan. Inilah yang melahirkan apa yang disebut Ekonofisika.
Bagaimana mungkin? Bukankah ekonomi atau keuangan selalu tersangkut paut dengan perilaku manusia (hidup) yang memiliki banyak sisi: spekulasi, politik, dan kultur sedangkan fisika tersangkut paut dengan benda mati yang tidak memiliki sifat seperti manusia? Pertanyaan ini dijawab oleh Prof. Tsallis, seorang ahli statistik termodinamika (entropi) dari Brazil. Memang, sistem fisika menyangkut perilaku atom atau partikel elementer seperti quark yang jumlahnya 10^30 (sepuluh pangkat tiga puluh), yang tidak pernah mati, tidak membutuhkan makanan, tidak memiliki intelegensi atau emosi dan tak berbudaya. Sedangkan sistem ekonomi menyangkut perilaku manusia yang jumlahnya belum mencapai 10^10 (sepuluh pangkat sepuluh) di bumi saat ini, yang mengalami kematian, butuh makanan, yang memiliki intelegensi atau emosi dan berbudaya. Namun, dengan statistik termodinamika, maka manusia dapat dimodelkan sama dengan atom dalam segala hal kecuali masalah intelegensi dan budaya. Dengan kata lain, jikalau masalah intelegensi dan budaya ini untuk sementara dikesampingkan maka kelakuan manusia dapat dipandang seperti kelakuan atom alias sistem ekonomi sama dengan sistem fisika. Inilah, sekali lagi, Ekonofisika.

Untuk memahami lebih lanjut Ekonofisika ini, N. Mantegna dan H. Eugene Stanley dalam bukunya:Introduction to Econophysics: Correlation and Complexity in Finance yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Yohanes Surya, PhD memberikan beberapa contoh kasus ekonomi keuangan yang di dalamnya menggunakan analysis tools yang terdapat dalam fisika. Sebagai contoh: random walk yang dalam fisika dikenal sebagai gerak Brown, Proses-proses Stochastic Levy dan teori-teori limit yangfungsi distribusi, pasar finansial dan turbulensi, taksonomi suatu portfolio saham dan lain-lain.
Secara garis besar dapat diklasifikasikan di sini beberapa analysis tools yang lazim dikenal dalam fisika dan dengan gamblang diterapkan dalam ekonomi keuangan:

menyangkut berbagai
(1).Fungsi-fungsi distribusi dalam Statistik fisika mulai dari Gauss, Poisson dan Boltzmann-Gibbs dipakai dalam analisis ekonomi keuangan.

(2).Fungsi-fungsi khusus seperti fungsi Gamma, variabel komplek, transformasi Fourier, konvolusi dan dekonvolusi dua fungsi yang dipelajari dalam fisika sebagai Fisika Matematika ternyata diterapkan secara gamblang dalam ekonomi keuangan karena

(3).Fluktuasi indeks saham atau valuta asing terhadap waktu, misalnya, memiliki ”kesemrawutan” profil yang sama seperti spektrum XRD (X-Ray Diffraction), XPS (X-Ray Photoelectron Spectroscopy), data log dalam pengukuran sumur minyak untuk menentukan lapisan yang mengandung minyak bumi dalam geofisika dan sinyal-sinyal lain untuk kasus signal processing dalam fisika.

(4).Masalah turbulensi dalam aliran fluida dengan bilangan Reynoldnya juga dipakai dalam ekonomi keuangan yang sering dikenal sebagai turbolensi harga-harga saham,

(5). Masalah statistik yang dikenal sebagai clustering statistic yang tidak hanya menghitung korelasi untuk mengukur derajat sinkronisasi beberapa saham tetapi juga mampu mengukur ”jarak relatif” (terminologi analisa cluster) di antara saham-saham pada suatu portfolio tertentu serta memberikan suatu metode untuk mengambil informasi ekonomi yang tersimpan dalam harga saham berbasis waktu. Catatan khusus penulis berikan untuk masalah ini karena pertengahan Agustus yang lalu penulis menguji sekripsi seorang sarjana Geofisika yang menggunakan statistic clustering ini dengan bantuan program komputer ”MATLAB” untuk menemukan cara baru dalammengidentifikasi lapisanan kerak bumi yang mengandung minyak bumi dari data sumur yang tersedia. Dari pasangan data sumur (Sinar Gamma atau Sonik) terhadap kedalaman serta efek pemberian warna pada cluster data, metode ini lebih mempermudah analisis ini dari pada metode pembandingan beberapa data sumur yang biasa dilakukan selama ini. Bidang inipun mulai dikenal luas dalam fisika atau dalam hal ini geofisika.

Lalu apa itu Ekonofisika? Dari pemaparan ini jelaslah bahwa Ekonofisika adalah gagasan fisika yang baru dalam menganalisa data ekonomi (khususnya keuangan) dengan menggunakan pengalaman-pengalaman dalam menganalisa sistem fisika yang suatu saat tidak tertutup kemungkinan bahwa keteraturan dan prediksi dalam sistem fisika dapat langsung diterapkan dalam prediksi ekonomi misalnya prediksi fluktuasi harga saham. Atau di masa datang, terbuka suatu jalan untuk memahami sistem ekonomi yang komplek yang tersangkut dengan manusia ini, sehingga eksperimen-eksperimen tidak dapat dilakukan secara langsung, dapat dipahami lewat eksperimen-eksperimen fisika dalam skala laboratorium atau simulasi komputer saja. Tentu saja untuk sampai pada tahap ini diperlukan riset dalam kurun waktu yang lama untuk menguji prediksi-prediksi fisika dalam kejadian-kejadian ekonomi keuangan. Ekonofisika tidak menjanjikan jalan pintas untuk mengatasi krisis secara langsung atau mencetak orang kaya dalam semalam. Namun bagaimanapun, timbulnya korban kasus-kasus seperti PT. Qurnia Subur Alam Raya (QSAR) dan Prasasti Batutulis dapat dicegah.Penulis adalah Dosen Fisika FMIPA, Staf pengajar S-2 Material Sains dan Fisika, Universitas Indonesia.

   

Copyright © Sinar Harapan 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s