Logika Samar

 The Houw Liong dan Logika Samar

L Wilardjo

PADA tanggal 7 Agustus 2002, The Houw Liong diprofilkan di Kompas. Guru Besar Fisika ITB ini bukan spesialis sempit di bidang Fisika Zat Padat saja. Selain tahu banyak hal tentang Fisika, ia tahu beberapa hal tentang banyak bidang lain. Minat dan perhatiannya tidak terbatas di bidang iptek, seperti Geofisika, Meteorologi, Logika Buram (Fuzzy Logic), Teori Galau (Chaos), dan sebagainya, tetapi juga merambah ke bidang-bidang lain, seperti Ekonofisika dan bahkan Filsafat dan bidang-bidang Humaniora lainnya.Ia juga menjalani dan menghayati keberagaman, dan mau lari ke Teologi manakala sains sudah mentok dan tidak dapat memberi jawaban atas pertanyaan yang mengusiknya. Pertanyaan-pertanyaan di seputar sangkan paraning dumadi (asli-muasal dan tujuan-akhir dari segala yang ada) memang di luar jangkauan sains. Akal budi kita terlalu terbatas untuk dengan tuntas dan sempurna memahami perkara yang sangat pelik dan misterius ini. Teori Dentuman Besar (Big Bang) barangkali memang benar. Bukti-buktinya memang ada, seperti kerdam (reverberasi)-nya yang masih ada sampai sekarang, dan terdeteksi dan terukur dalam penelitian fisikawan UI, Terry Mart. Tetapi, The Houw Liong ingin tahu, apakah ada sesuatu sebelum Big Bang dan, kalau ya, apakah itu. Pertanyaan ini secara spekulatif menyiratkan kemungkinan bahwa Big Bang bukan awal dari segala ciptaan, dan bahkan mengisyaratkan kemungkinan bahwa jagat raya ini sudah ada sejak kekekalan dan akan terus berada sampai kekekalan; dengan kata lain tidak pernah bermula, dan tidak akan pernah berakhir.

The Houw Liong menyatakan bahwa ia tak dapat bersikeras tetap berada di otak kiri sebab teorema Goedel membuktikan bahwa dalam logika pun ada kontradiksi. Orang Jawa bisa mengatakan bahwa pernyataan itu bener, nanging ora pener (betul, tetapi tidak benar). Memang betul bahwa kenyataannya,

The Houw Liong tidak hanya mengandalkan alam pikiran yang logis walau kesimpulannya bersesuaian pula dengan fakta empiris. Ia juga bersandar pada kemampuan otak kanannya, pada alam perasaan yang estetis dan bahkan spiritual. Tetapi, sebabnya pastilah bukan (atau setidak-tidaknya bukan hanya) karena Logika Formal (Barat) ternyata tidak kalis dari kontradiksi.Seandainya Logika Barat konsisten seratus persen pun, dan sungguh-sungguh sepenuhnya “hitam-putih” karena yang “abu-abu” dimustahilkan oleh Kaidah Larangan Tengah (The Rule of the Excluded Middle), The Houw Liong toh juga tidak akan bersikeras berkutat di otak kiri saja. Menjadi sok sepenuhnya logis dan seratus persen rasional berarti tidak bersyukur kepada Tuhan yang sedemikian besar kasihNya sehingga menyinungi kita dengan kemampuan dan kepekaan yang jauh lebih luas dan kaya. Itu akan sama saja dengan hanya menerima nalar, dan menolak naluri, nurani, dan nalar

Bahwa The Houw Liong religius dan sesekali memberi renungan atau khotbah dalam persekutuan ibadat, menunjukkan bahwa ia tidak mencampakkan nalar (batin)-nya, yakni dimensi spiritual dari kehidupannya.

Saya kira The Houw Liong, seperti kita semua pada umumnya, mengamini pernyataan Rescher dan Brandon, bahwa “one need no longer hold that rationality will fly out the window when inconsistency comes in the door”. Tak perlu lagi kita berpegang pada keyakinan bahwa rasionalitas akan terbang bila inkonsistensi datang. Perlu juga kita renungkan pandangan filsuf-cum logikawan Ludwig von Wittgenstein bahwa kontradiksi yang tampak dalam suatu sistem jangan pernah, pada dirinya sendiri, dijadikan dasar untuk menolak sistem itu. Apakah inkonsistensi (seperti ditemukan Goedel dalam Logika Barat) itu dapat ditenggang atau tidak, pertama-tama dan terutama tergantung pada apakah inkonsistensi tersebut membuat sistem itu menjadi sama sekali tak berguna untuk maksud-maksud perancangannya semula. Kaidah non-kontradiksi tidak perlu coute-que-coute dijadikan ukuran yang mutlak dan bebaskonteks dari rasionalitas dalam wacana tertentu.

The Houw Liong saya kira bukan “logikawan murni” seperti Karl R Popper yang (berpretensi) menampik apa yang disebutnya induktivisme hanya karena kesimpulan umum yang ditarik dari sejumlah bukti khusus dianggapnya sebagai lompatan yang tidak logis. Memang, sih, cuplikan (sample) yang dipakai sebagai dasar penyimpulan induktif itu bukan populasi lengkap, dan bukti-bukti partikular itu, betapa pun banyaknya, tak akan pernah exhaustive (tanpa menyisakan secuil pun kenyataan yang belum diperiksa). Mungkin benar pula pernyataan Popper, bahwa beranggapan bahwa kebenaran prinsip induksi diketahui dari pengalaman niscaya menjurus ke inkonsistensi logis. Tetapi, bukankah merupakan akal sehat (common sense) untuk mengasumsikan kebenaran suatu hal bila bukti-bukti yang mendukungnya sedemikian banyaknya, sehingga “mengewalahkan” (overwhelming)? Tentu saja asumsi itu masih bisa salah, tetapi kita cenderung bersedia menerima risiko kesalahan itu. Ya, kita memang bukan makhluk yang sepenuhnya logis. Kita adalah manusia biasa yang utuh dengan berbagai kemampuan dan beraneka nuansa kepribadian. Idiosinkrasi kita, yang membuat kita terkadang tampak eksentrik di mata liyan, juga merupakan bagian dari kepribadian kita, yang harus kita syukuri pula.

The Houw Liong memang seorang fisikawan. Tetapi, lebih dari itu, ia seorang manusia biasa yang bahumatra (multidimensi) dan utuh. Ia bahkan suka menikmati lezatnya bakmi Mundiyo di dekat plengkung Wijilan, Yogyakarta. Ia juga betah berlama-lama duduk di emper toko, asyik memperhatikan demonstrasi “akik ajaib” yang dilakukan oleh penjualnya di Malioboro. Ada juga yang “aneh” tentang dia, di mata saya, yakni bahwa dia memadankan istilah-atau tepatnya nama lambang-curl dengan “keriting”. Memangnya operator-operator dalam Kalkulus Vektor itu seperti rambut sehingga ada yang keriting dan mungkin ada pula yang kejur?!

L Wilardjo, Guru Besar Fisika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s